19 Desember 2009

I R I, ha?

apa dari diri anda yang bisa anda banggakan, yang bisa membuat saya iri. apa?


mau jadi apapun anda, mau anda bawa kemana hidup anda, i am so sorry, i do not care. untuk apa saya capek capek berpikir tentang orang lain sedangkan diri saya sendiri belum becus dalam hal itu.

well, i'm fine. there will not any changes. saya akan tetap berbaur, tanpa rasa tidak enak sama sekali terhadap anda.
muka tembok? ya memang itu yang mau saya tunjukkan pada anda. saya tidak kalah karena saya rasa saya tidak ada masalah dengan anda

get it?

17 Desember 2009

untitled pt 2

Pagi itu sudah cukup siang untuk dikatakan pagi, Roseline baru terbangun dari dunia mimpinya. Melihat jendela. Dengan tergesa-gesa berlari dari tempat tidur nyamannya menuju kamar mandi. Diluar telah menanti seorang yang menjadi “agenda berjalannya”. Seorang pria kurus dengan mata yang terlihat selalu mengantuk. Berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Roseline. Hans, itulah namanya, mulai resah dan tersenyum lega saat melihat Roseline keluar dan sudah berpakaian rapi setelah menunggu paling tidak 1 jam lamanya.

Mungkin hari ini akan melelahkan bagi Roseline. Akibat keterlambatanya tadi paling tidak ia sudah melewatkan paling tidak dua acara tanpa kehadirannya. Hal itu sungguh sangat membuat Hans bingung bagaimana menghentikan kebiasaaan Roseline untuk tidak bermain lompat tali sampai tengah malam. Itu akan menghambatnya segera pergi tidur, dan membuatnya terlambat bangun.

Acara berikutnya dimulai satu jam lagi dan itu membuat Roseline menyesal sudah terburu-buru siap-siap. Menunggu selama satu jam sangat membuat Roseline bosan. Kebosannan itu terbayar setelah keluarga dari Bizantium datang. Rezon, putra dari kerajaan itu, dengan anggun melangkah masuk melewati pintu Salvadoria, membuat Roseline yang semula bosan menjadi terpikat, begitu pula sebaliknya yang dirasakan oleh Rezon. Semua orang duduk mengitari meja persegi panjang termasuk Rezon. Rezon dengan rupa semenarik Skandar Keynes menatap Roseline dari sebrang meja. Roseline dengan tersipu mengalihkan pandangan, menghindari wajahnya yang mulai memerah.